Intentional Fallacy

kenapa maksud penulis bukan satu-satunya cara menafsirkan karya

Intentional Fallacy
I

Pernahkah kita mendengarkan sebuah lagu patah hati yang begitu menyentuh, sampai-sampai kita meneteskan air mata mengingat masa lalu? Lalu, suatu hari, kita iseng membaca wawancara si penyanyi di internet. Ternyata, lagu itu ia tulis bukan tentang mantan kekasih, melainkan karena sedih kucingnya hilang. Tiba-tiba, magis lagu itu rasanya sedikit luntur. Mengapa kita merasa sedikit "tertipu"? Mengapa kita begitu terobsesi mencari tahu apa maksud asli sang pembuat karya? Pertanyaan ini sebenarnya bukan cuma masalah selera musik, tapi sebuah misteri kognitif yang sudah menghantui cara manusia bercerita selama berabad-abad.

II

Secara psikologis, otak kita memang didesain keras untuk menjadi "pembaca pikiran" amatir. Dalam sains kognitif, ada konsep bernama Theory of Mind. Ini adalah kemampuan bawaan otak kita untuk membayangkan niat, emosi, dan isi kepala orang lain. Ketika kita melihat sebuah lukisan, menonton film misteri, atau membaca novel, insting purba sosial kita langsung menyala. Kita butuh kepastian. Kita ingin tahu siapa sosok di balik karya tersebut dan apa maunya. Di masa lalu, cara kita menikmati karya seni sangat bergantung pada biografi senimannya. Kalau kita tidak tahu latar belakang trauma si penulis, seolah-olah kita belum benar-benar paham karyanya. Pendekatan ini terasa sangat logis dan manusiawi, bukan? Namun, seiring berjalannya waktu, ada satu celah besar yang perlahan mulai disadari oleh para pemikir dan ilmuwan perilaku. Bagaimana kalau maksud si penulis sebenarnya tidak sebaik karyanya?

III

Mari kita bayangkan sebuah skenario yang pernah benar-benar terjadi. Ray Bradbury, penulis novel fiksi ilmiah legendaris Fahrenheit 451, pernah berdebat hebat dengan sekelompok mahasiswa di sebuah kampus. Para mahasiswa membedah novel tersebut dan yakin bahwa ceritanya adalah kritik terhadap sensor dan bahaya rezim otoriter. Bradbury marah. Ia bilang bahwa novel itu murni bercerita tentang bahaya televisi yang menghancurkan minat baca. Menariknya, para mahasiswa tetap bersikukuh dengan tafsir mereka, dan Bradbury pergi dengan kesal. Siapa yang benar di sini? Apakah pencipta karya memegang hak veto mutlak atas makna karyanya? Masalah ini menjadi semakin rumit ketika kita melihat karya seni dari masa lalu, seperti lukisan gua purba di Sulawesi. Pembuatnya sudah tiada puluhan ribu tahun lalu. Kita tidak mungkin mewawancarai mereka. Apakah itu berarti lukisan tersebut kehilangan maknanya? Di titik inilah, kita mulai menyadari ada sesuatu yang keliru dengan cara kita mendewakan niat seorang kreator.

IV

Kebingungan sejarah ini akhirnya dijawab secara telak oleh dua kritikus sastra, W.K. Wimsatt dan Monroe Beardsley, pada tahun 1946. Mereka memperkenalkan sebuah konsep brilian yang mengubah sejarah pemikiran manusia: Intentional Fallacy atau sesat pikir niat. Mereka berargumen bahwa niat pembuat karya itu bukan hanya sering kali tidak bisa dilacak, tetapi sebenarnya tidak relevan untuk menilai karya tersebut. Kenapa bisa begitu? Karena sebuah karya yang sukses harus bisa berdiri sendiri. Jika seorang pembuat film harus merilis utas panjang di media sosial untuk menjelaskan maksud filmnya agar penonton paham, berarti film itu gagal berkomunikasi secara mandiri. Di ranah neurosains, hal ini sangat terbukti. Saat kita mengonsumsi cerita, otak kita tidak menyerap informasi seperti spons pasif. Jaringan saraf kita secara aktif mencocokkan simbol visual atau teks dengan memori, trauma, dan pengalaman pribadi kita sendiri. Sains membuktikan bahwa makna tidak diunduh dari kepala penulis ke kepala pembaca. Makna diciptakan ulang di dalam otak kita. Ini sejalan dengan gagasan radikal filsuf Roland Barthes lewat konsepnya, The Death of the Author. Agar sebuah teks bisa hidup dan bernapas dengan bebas, otoritas mutlak sang penulis harus "dimatikan". Karyanya kini menjadi milik publik.

V

Jika dipikir-pikir, pemahaman ini sebenarnya sangat membebaskan kita. Teman-teman tidak perlu lagi merasa minder atau salah kalau tafsir kalian terhadap film festival yang rumit berbeda dengan ulasan sutradaranya. Kita juga tidak perlu patah hati kalau makna lagu favorit kita ternyata berbeda dengan niat si musisi. Seni adalah sebuah cermin, bukan sekadar megafon milik sang kreator untuk meneriakkan isi kepalanya. Saat kita melihat sebuah karya, kita sebenarnya sedang melihat pantulan dari jiwa dan pikiran kita sendiri. Mengetahui niat asli seorang penulis mungkin memberi kita konteks sejarah yang asyik untuk didiskusikan, dan itu sah-sah saja. Namun, makna sejati dari sebuah karya baru benar-benar menyala ketika ia bersentuhan dengan realitas hidup kita. Jadi, mulai sekarang, percayalah pada tafsir dan perasaan teman-teman sendiri. Karena di detik sebuah karya dilepas ke dunia, kita semualah yang menjadi penulis akhirnya.